Wednesday, May 11, 2016

Sadiq Khan dan Gegap Gempita Ekspress



Belakangan ini jagat media sosial di Indonesia menjadi gempar. Bukan karena ciuman basah Cinta dan Rangga atau isu diamankannya Ikan Louhan di Jogja karena terdapat motif lambang PKI di sisiknya. Tetapi karena terpilihnya Sadiq Khan, seorang muslim sebagai walikota di London, Inggris.

Sontak, ucapan syukur dan berita kemenangan muslim imigran asal Pakistan tersebut  berseliweran diberbagai media sosial. Namun sayangnya, dalam waktu yang cukup singkat, puja puji dan ucapan syukur karena terpilihnya seorang muslim pertama sebagai walikota di negeri tafir itu berubah menjadi ungkapan kekecewaan, kesedihan, bahkan kejijikan.

Lha, bagamana tidak, sosok yang awalnya dikira sukses terpilih sebagai walikota karena dianggap membawa citra Islam secara utuh tersebut, ternyata pendukung aspirasi kelompok pro-LGBT.  Di samping itu, Khan merupakan anggota dari Partai Buruh. Partai berhaluan kiri-tengah atau sosialis demokrat. 

Pro LGBT lalu kiri pula! Bah, lengkap sudah ketafiran yang melakat dalam dirinya. Akhirnya, Khan yang sebelumnya dipuja-puji, dalam sekejap ditinggalkan, karena telah terbukti telah tafir sejak dalam pikiran dan perbuatan.


Entah apa yang ada dalam pikiran umat muslim di Indonesia ketika mendengar berita bahwa ada seorang muslim yang kemudian terpilih menjadi walikota di negeri tafir. Barangkali mereka membayangkan sosoknya seperti Aher, Anis Matta, dan paling tidak Bang Oma atau Haji Lulung.

Muslim Indonesia mungkin lupa bahwa masyarakat eropa memiliki karakter yang rasional, logis, empiris. Artinya, dalam pemilihan seorang pemimpin, mereka juga tidak akan melihat hal lain di luar konteks kepemimpinan tersebut seperti agama, asal-usul, ras, dan lain sebagainya. Tetapi, lebih memfokuskan pada persoalan visi dan misi, rencana jangka ke depan, program kerja, dan segala bentuk kinerja kepemimpinan lainnya. 

Tidak seperti di Indonesia. Anasir-anasir di luar konteks kepemimpinan begitu berpengaruh dalam  pemilihan seorang pemimpin. Agamanya apa, keturunan siapa, sukunya apa, dan segala tetek bengek yang ngga ada urusan sama kinerja lainnya.

Bahkan semestinya warga muslim Indonesia tak perlu kaget secara berlebihan setelah mengetahui bahwa Khan bisa terpilih sebagai walikota karena sebab ia adalah pendukung LGBT dan anggota partai berhaluan kiri. Rasa-rasanya setelah peristiwa Paris dan Brussels serta hantaman gelombang imigran dari timur tengah, kok ya ndak mungkin orang Islam yang diimpi-impikan khalayak muslim Indonesia itu bisa mimpin disalah satu kota besar di eropa. Ngimpi, jon.

Fenomena gegap gempita kurang dari 24 jam yang muncul itu malah terlihat seperti dagelan. Memangnya apa sih yang ada di dalam kepala mereka sehingga begitu bangganya ketika mendengar kabar terpilihnya seorang muslim di Negara tafir? 

Mereka nda perlu muslim yang jadi pemimpin untuk sejahtera brur. Menurut penelitian, bahkan Negara paling islami di dunia itu adalah Irlandia yang penduduk muslimya Cuma sekitar 45 ribuan orang. Tolok ukurnya dilihat dari banyaknya nilai-nilai Islam yang diaplikasikan di Negara tersebut. Sedangkan di Negara ini, muslim di mana-mana jadi pemimpin tapi toh juga masih sering ngibulin rakyat. 

Islam yang memerintahkan untuk  memilih pemimpin yang tidak berkompeten bukanlah Islam yang saya kenal. Sekali lagi, Bila ia tidak berkompeten. Apalagi Nabi pernah menyebutkan, bahwa bila menyerahkan suatu persoalan pada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran. 

Peristiwa gegap gempita Sadiq Khan semakin menunjukan bahwa ada kesan seolah masyarakat muslim kita ini sungguh polos dalam memandang realitas politik dengan anggapan politik itu hanya sebatas hitam dan putih atau kebaikan dan keburukan. Sedangkan proses yang terjadi di dalam itu tidak sesederhana yang dibayangkan.

Ada intrik, kepentingan, lobi-lobi, posisi tawar, dan segala tingkah brengsek lainnya yang luput dari liputan media. 

Tolonglah, jangan bodoh-bodoh amat. Cari fakta  di balik gambaran proses politik yang disajikan oleh media melalui buku-buku, diskusi, atau googling. Raja Salman bukan sekedar apa yang dipresepsikan oleh media, toh belakangan muncul berita namanya ada di dokumen panama sebagai menyokong dana kampanye Benyamin Netanyahu. Erdogan bukan sekedar penyelamat imigran Suriah sebagaimana dipresepsikan oleh media, toh ada isu bahwa Turki menjalin hubungan bisnis dengan ISIS melalui perdagangan minyak mentah illegal. Masih banyak keabu-abuan yang harus ditelusuri lagi lebih dalam.

Coba, apa tidak konyol dan terlihat bodoh. Dalam waktu kurang dari 24 jam sejak keluarnya berita kemenangan Sadiq Khan, “Alhamdulillah” berubah jadi “astaghfirullah” dengan alasan “saya kecewa”.

Kecewa mbahmu…! 

No comments:

Post a Comment